teks usang negeri yang mati suri
28 oktober 1928
Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
28 oktober 2011
Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
***
antara 28 oktober 1928 dan 28 oktober 2011
antara tanah terjajah dan tanah merdeka
antara kekuasaan kolonialis dan kekuasaan politis
antara sumpah pemuda dan sumpah pak mentri
sejenak,
kami miris melihat merah putih bernanah
kami menangis mengheningkan cipta
untuk para pahlawan yang gugur diribaan sang saka
untuk para pahlawan yang gugur demi bangsa
hari ini kami mengangkat lengan
hari ini kami mengangkat lengan untuk mereka yang gugur
hari ini kami mengangkat lengan untuk mereka yang gugur,
dan untuk penghormatan terakhir di delapan puluh tiga tahun ini
***
sorak semangat sang komando
bertengger soantero tanah lapang
bersua
satu nusa ...
satu bangsa...
satu bahasa...
sorak mengenang para pahlawan
mengheningkan cipta dimulai
Dengan seluruh angkasa raya memuji
Pahlawan negara
Nan gugur remaja diribaan bendera
Bela nusa bangsa
Kau kukenang wahai bunga putra bangsa
Harga jasa
Kau Cahya pelita
Bagi Indonesia merdeka
merah putih seraya berkibar
mengharu bersama deru angin yang menyentuh
kan bersamaan kami melangkah menjauh
meninggalkan bait terakhir lewat puisi ini
HANYA SEBATAS PUISI
kita hanya sebatas puisi,
Kau usap bening asa kian deras mengalir dipipiku,
Kemudian kau melangkah pergi bersama senja yang redup,
Aku masih diam terpaku diamuk puisi tak berjudul,
hanya merah seolah tak mau berhenti mengalir disudut luka hatiku,
begitu sendu,
Akhirnya kau pun menghilang di akhir malam menanggalkan sastra dihatiku yang masih tak bernama
seratus empat puluh hari tanpa hadirmu, tanpa kabar tentangmu,
Aku masih disini terus menunggu kau kembali di tebing hati diujung senja yang basah.
perindu setia,
Kembalilah...!
Lihatlah aku yang masih setia walau kini hanya tersisa rangkaian belulang,
dan masih saja menunggumu...!
AKU LAH SANG PENYAIR JALANAN
jika menjadi pecinta harus menjadi penyair,
akulah sang penyair;
jika menjadi penyair harus menjadi penyihir,
akulah sang penyihir;
jika menjadi penyihir harus berfikir jahat,
aku bisa berfikir jahat;
jika karena berfikir jahat harus dibenci dunia,
aku rela untuk itu;
dibenci dunia berarti menjadi pecinta hakikat, dan
itulah yang sering terjadi;
aku tegaskan, akulah sang penyair jalanan...